Friday, September 26, 2008
SPECIAL THANKS
TRAVELLING AROUND INDONESIA, JOURNEY TO AMBON :
In this journey, Many Thanks to :
Faisal :
Thanks for the nasi kuning… the taste is unforgettable.
Abang/Pa` Hasan
I have been traveling around this company’s operational unit. It is the first time for me to meet such a qualified man. Your experience and concept in managing corporation can become role model. Your leadership is the type that every body admires and misses. You are true that layered-management can protect company and empower crew. Tips and trick of successful marketing is invaluable theory for me.
ALSO....
Abang havi :
Beta seng akang lupa apa abang bilang…. “Survey membuktikan bahwa Kalo makan mesti jaga-jaga. Jang` makan punya orang dan jang` dipaksa itu perut. Mesti ada bagi deng orang. Kalo tidak ose akang muntah sebab ose su aniaya diri sandiri deng ambil hak orang lain.
Abang leo
Ose pung resep akan beta jalankan. Murah namun mujarab. Thanks also for the hospitality
Abang Awi
Thanks for the cooperation. The story is fantastic.
Ale Eko
Ale bnar-bnar berani. Thanks for the video and the morning coffee.
Many thanks also to Pa` Muhtazam, Haeruddin, Dul, Ibu Ijja, Ibu Upy dan tman2 mekanik
Ibu haji
Katong sungguh batarimakasih atas pengetahuan yang beta dapa. Zikir bukan hanya saat bertasbih namun semuanya mulai dari speak, gaya, dan samua-samua yang bae juga adalah zikir. Moga beta bisa slalu jalankan.
Ina Abdullah…
The story is great. It is painful but you still share it to me. Many values I can take from your story. Thanks for letting me help you selling and also for the funny story… ikan ruma-ruma. Your Kasoami & kamba2na kapaea are delicious.
Note ;
Complete English version will be issued sooner.
SUNGAI BELUT / MOA and The Kind Indo-French Family
TRAVELLING AROUN INDONESIA, JOURNEY TO AMBON :
Perjalanan yang dilakukan bukanlah perjalanan wisata murni. Tujuan utamanya yakni on-site assignment. Jadi wisata hanyalah intermezzo, maka selalulah bersiap. Waktu untuk mendatangi lokasi wisata bisa datang kapan saja. Anda bisa saja kehilangan kesempatan untuk menikmati jernih dan segarnya air sungai/laut. Karena itu kondisikan kelengkapan anda bahwa saat berangkat kerja adalah juga saat berangkat wisata.
Untuk orang Timur yang masih Timur sekali, Pakai memang pakaian dalam , jadi pas berkunjung ketempat wisata bisa langsung mandi. Jadi tidak harus menunda keinginan hanya karena takut pakaian seragam anda akan basah kuyup. Kecuali bila anda terbiasa mandi dengan hanya memakai celana dalam atau bikini, maka kondisi ini bukan masalah.
Ini seperti yang saya alami saat berkujung ke daerah wisata tulehu (Ambon)
tempat Moa (belut besar). Kunjungan itu merupakan kunjungan dadakan . Mulanya saya tidak berpikir bahwa tempat yang akan kami datangi bisa untuk mandi. Ini karena kawan yang mengantar kami bilang bahwa daerah itu adalah daerah tempat belut besar. Sungguh mengerikan bila mandi dengan belut besar berenang disekliling kita.
Situasinya berubah total. Setiap yang memandang airnya pasti akan langsung tertarik menceburkan diri. Airnya jernih asli dan segar. Nyong-nyong muda Ambon bermain air dengan gembiranya. Pikirku saat itu bahwa mereka sungguh berani mandi dengan belut dikiri kanan sungai atau bahkan di sela-sela kaki mereka.
Penjelasan bapak Tua (masternya belut) bahwa belut dengan panjang paling pendek 1 meter, usia ada yang hingga 15 tahun, tak menggangu dan tetap bersembunyi dalam lubang persembunyiannya, menguatkan keinginan untuk mandi.
Sebuah pengalaman yang fantastik. Sungguh Akan benar-benar menyedihkan bila saat itu tak mandi hanya karena pakaian dibadan masih berupa seragam yang tak mungkin dibasahi karena saat pulang harus tetap masuk kantor terlebih dahulu untuk melanjutkan pekerjaan. Atau jika saat itu tidak memakai celana jongkoro. Thanks to bapak tua dan Pa` Jaju atas waktu dan penjalasannya. Many thanks also to Nichol’s family for the towel and the invaluable story. Thanks To Risal for the documentation
TIPS DAN TRIK
TRAVELLING INDONESIA, JOURNEY TO AMBON :
Agar kerja mantap sekaligus dapat mengunjungi tempat wiasata ke daerah yang dikunjungi maka kelengkapan kerja dan penentuan lokasi penginapan menentukan realisasi yang sukses atas kedunya secara bersamaan.
Kelengkapan kerja bisa meliputi :
Agenda kerja yang akan dilakukan ; ini berguna sebagi rute hingga bisa dengan tepat mengalokasikan waktu untuk wisata.
Kelengkapan ini juga bisa berupa barang bawaan. Formulanya bisa seperti ini ;
Pakaian kerja : Service uniform , shoes, socks,
Pakaian casual .. (celana jongkoro , underwear, kaus oblong , Jacket, small towel, levis, sweater).
Aksesoris ; hat, shoe polish, deodorant, slippery/sandal, hand phone plus charger, mp4 plus charger and headset, soap, shampoo, tooth paste, tooth brush , shaving tools, cap, mat prayer, sarong, camera.
Complementary document ; ticket, assignment letter, folder (stationery),
Minimalist is the key factor considered in choosing the right size. The lighter the luggage’s weight, the easier the trip will be.
Pilihan lokasi penginapan berpengaruh besar terhadap pencapaian tujuan sampingan anda. Bila anda tertarik untuk lebih akrab dan mengenal lebih dalam budaya dan karakter daerah yang akan anda datangi maka lokasi dekat pasar tradisional akan sangat tepat. Orang dari berbagai tingkat ekonomi datang dipasar untuk berbelanja. Penduduk dari berbagai pelosok kepasar menjual. Semuanya berinteraksi dengan bahasa dan dialek aslinya. Mereka juga sebagian berpenampilan sesuai dengan adat dan tradisinya. Juga Anda bisa melihat langsung hasil pribumi komoditas unggulan daerah yang anda datangi.
Pasar juga biasanya merupakan terminal angkutan dalam kota dan luar kota. Anda bisa dengan mudah berkeliling dalam kota tanpa perlu khawatir akan tersesat. Angkutan yang anda tumpangi akan membawa anda kembali keterminal setelah berkeliling. Jadi tidak perlu khawatir akan tersesat.
Akan tetapi bila anda penikmat pemandangan alam maka lokasi dekat pantai/gunung merupakan pilihan yang pas. Terlebih jika anda memilih kamar dengan sea atau mountain view. Pemandang biru laut ataupun pegunungan yang hijau akan selalu memenuhi mata anda sejak anda bangun dari tidur. Aroma angin laut ataupun udara segar pegunungan akan merasuki hidung anda setiap harinya.
Pilihan lokasi ini bergantung pada prioritas anda. Umumnya penginapan untuk golongan yang kedua diatas lebih mahal dibanding yang pertama. Hal ini biasanya karena penginapan seperti ini biasanya direservasi oleh kalangan ekonomi menengah keatas. Apapun pilihan anda, yang terpenting adalah bahwa anda bisa bekerja sembari berwisata.
BERPELANCONG DISELA KUNJUNGAN KERJA
TRAVELLING AROUND INDONESIA; JOURNEY TO AMBON :
Berwisata ke sebuah daerah baru tentu diidamkan setiap orang. Ada banyak hal baru yang dapat dinikmati seperti budaya, karakter dan pemandangan alam. Dengan berwisata maka kepenatan kerja dan hiruk pikuknya kota bisa terlupakan untuk sesaat sebelum kembali lagi memulai kerja.. Yang tepenting dari semua itu yakni kita dapat mengambil hikmah dari hal baru yang kita akan lalui . Kita bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selalu ada di otak kita “ bersyukur atau tidakkah kita atas status dan posisi kita sekarang ini???
Bagi yang bekerja disebuah perusahaan , tentu bukan hal mudah untuk merealisasikan keinginan ini. Disamping dibutuhkan biaya besar untuk sekali kunjungan, porsi cuti yang umumnya dialokasikan untuk keadaan urgen bisa berkurang bila harus dialokasikan hanya untuk tujuan melancong.
Bagaimana jadinya bila cuti telah dihabiskan dan lalu ada pertemuan keluarga yang mendadak dan yang butuh waktu tempuh lebih dari sehari?? Dalam kondisi ini anda akan membuktikan sendiri kebenaran pepatah lama “ bersenang-senang dahulu, bersusah-susah kemudian”.
Bersyukurlah bahwa ada job yang mengharuskan untuk tugas keluar daerah. “Sambil menyelam minum air”, mungkin inilah istilah yang pas bagi para pelancong dalam golongan ini. Bahasa kasarnya yakni Mencuri waktu disela kunjungan kerja guna memuluskan keinginan menjelajahi daerah baru.
Bila anda masuk dalam kelas ini, tetap ingat untuk memprioritaskan tujuan utama anda “ menjalankan amanat kantor anda bekerja”.. Bila urusan kunjungan kantor anda terbengkalai hanya karena anda menyibukan diri dengan berpelancong maka anda tidak lagi akan dipercaya atasan , dengan demikian tidak akan ada kesempatan kedua bagi anda berkunjung ke daerah lain.
To be continued
Ini Negara kita, Kampung halaman kita ; Indonesia dalam buku
My Country , My hometown
Indonesia sangat kaya dan diberkati dengan alam yang mempesona dunia. Sekali waktu saya bertanya pada turis yang saya temui di penginapan di salah satu hotel di Tator mengenai daerah yang akan dia tuju berikutnya. Ia dengan lancar menyebutkan daerah yang telah jadi agenda perjalanannya.
Ia tak lupa menunjukan sebuah buku. Itulah petunjuknya. Saya lebih suka memberinya judul “Indonesia dalam buku”. Buku itu memuat seluruh penjelasan tentang areal yang dianjurkan untuk dikunjungi bahkan harus dihindari misal karena potensi konflik. Sungguh menarik. Berbagai tempat yang mereka rencanakan untuk kunjungi, telah dikenal lebih dahulu dengan hanya membawa sebuah buku atau peta.
Benar bahwa ada utusan khusus penerbitan luar negeri ke Indonesia untuk merekam dan mencatat tempat, situasi dan berbagai informasi yang mendukung perjalan wisata orang sedunia. Ini saya ketahui dari hasil bincang-bincang dengan seorang turis selama perjalan pesawat udara dari Maumere ke Makassar, transit di Bali. Katanya ia sengaja diutus penerbit tempatnya bekerja guna menjelajahi daerah flores.
Informasi yang akan dimasukan dalam bukunya bisa berupa hotel yang ada di setiap tempat wisata ; mencakup alamat, tariff, menu makanan dan fasilitas yang disediakan. Selain itu, jarak dari hotel ke berbagai tempat wisata terdekat dan cara mengunjunginya juga disertakan.
Begitu detailnya hingga juga dijelaskan sewa angkutan umum dan cara negosiasi dengan supir. Fasilitas pendukung dari yang tradisional misal warung makan emperan, hingga yang modern, café, mal dan fasilitas Bank serta peta lokasi. Betapa kaya informasi yang dimiliki. Jadi buang jauh-jauh pikiran bahwa mereka orang asing. Mungkin kita lebih asing dibanding mereka di kampong halaman kita sendiri.
Lain lagi dengan cerita perjalanan ke Ambon. Saya sempat bertanya pada keluarga Indo- Prancis (Thanks to Poppy and her husband Jerome, and the beautiful Twin), menanyakan mengapa Ambon menjadi pilihan wisata? Sungguh diluar dugaan bahwa daerah yang baru saja kami kunjungi bersama telah ditayangkan pada stasiun lokal Prancis. Tadinya saya berpikir itu adalah siaran TV Indonesia yang online keseluruh dunia.
Ini Negara kita. Tapi apa yang kita tau kini rasanya baru sebatas areal dimana kita tinggal ataupun bila kita tau, itu baru sebatas pada infromasi lewat radio, televise atau Koran.Ini kampong halaman kita. Kita kadang menjadi tuan rumah yang tak ramah pada kampong kita sendiri. Masih sering kita dengar terjadinya pengrusakan karang, mengotori tempat wisata dengan membuang sampah sembarang, kebiasaan adu otot dulu baru bicara , adu mulut tanpa praktek (NATO), lebih banyak menunjolkan keakuan bukan kekitaan.
Kita kedatangan tamu jauh yang menunjukan betapa indahnya kampong kita. Giliran kita untuk menjaganya hingga kita kembali.., kembali.., dan terus kembali dikunjungi.
Ini Negara kita, Kampung halaman kita : Kita Asing di kampong sendiri
My Country , My hometown
Dalam perjalanan tugas saya sering bertemu dengan wisatawaan asing dari berbagai negara seperti Prancis, Inggris, spanyol, Belanda, Swis, Australia, Selandia Baru dan lain sebagainya. Menyenangkan sekali bisa dapat teman dan informasi baru, sekaligus bisa latihan ngomong bahasa dunia.
Terbesit rasa kagum kepada mereka yang bisa mengelilingi seluruh wilayah Indonesia. Terlebih diantara mereka ada yang sangat muda, yang untuk ukuran Indonesia masih mengharapkan bantuan orang tua. Seandainya saja blog ini telah lama saya buat, akan saya sebutkan satu persatu nama dan contact person mereka.
Disatu saat dalam perjalanan ke Ruteng, Flores, saya bertemu dengan seorang berkebangsaan belanda. Usianya sangat muda. Dari bincang-bincang dengannya tahulah saya bahwa ia menghabiskan waktu libur setelah tamat sekolah setingkat SMA di negaranya. Nanti sesaat setelah kembali dari perjalanannya, ia akan masuk sekolah militer.
Pertemuan itu terjadi diterminal saat hendak berangkat dari Ende ke Ruteng. Ia marah-marah…..katanya Indonesian jam karet. Sebagai pembandingnya, dia bilang bahwa dinegaranya, terlambat sekian menit saja, anda akan ketinggalan. Bahkan sekalipun anda berdiri menghadangnya, mobil tidak akan berhenti.
Yang bisa saya katakan bahwa angkutan umum Indonesia tidak mendapatkan subsidi penuh karena itu untuk memaksimalkan pendapatan maka bis baru akan berangkat bila semua kursi telah terisi.
Saat kami singgah beberapa saat ditempat pemberhentian di suatu daerah di Flores, Ia bertanya padaku “buang dimana sampahnya?”… Itu karena ia bingung tak melihat tong sampah bahkan sekalipun depan toko tempat kami belanja. Saya cukup maklum dengan kebiasaan mereka yang disiplin dalam menjaga kebersihan.
Saya coba memancingnya dengan mengatakan di Indonesia, sejauh mata memandang, itulah tempat sampah. Tapi itu tak membuatnya meninggalkan kebiasaannya. Keteraturan dan konsistensi perilaku membuatnya teguh. Pastilah ia bukan takut karena berada bukan dinegaranya, namun dengan melakukannya, ia telah mengkhianati prinsip sendiri yang telah tertanam seumur hidupnya.
Luar biasa nilai yang ditunjukannya. Kita orang Indonesia kadang sok kebarat-baratan. Kita Berlomba-lomba ambil bagian dalam prinsip Westernisasi. Namun pada dasarnya kita bukannya modern, melainkan primitive. Mulai dari kebiasaan membuang sampah, urusan antri, sampai urusan telat. Pada masa primitive saja telah ada penunjuk waktu. Sekarang kita bersikap malah sepertinya belum ada jam di dunia ini. Dalam urusan antri, kita kadang asal main serobot saja. Bukankah ini kita mangambil prinsip siapa kuat dia menang?
Juga, Bagiku ia cukup berani karena ia sendirian mengelilingi Indonesia yang tentu saja merupakan daerah baru yang asing. Ternyata untuk melakukan perjalanan ini, semua berawal dari perencanaan yang matang. Istilah kerennya excellence Planning. (nanti akan kita bahas tersendiri istilah ini)
Monday, September 22, 2008
ME and my kampong profile; Bau-bau Buton
My coworker calls me
rhood call me Tamin. Both are ok for me. I was born in Bau-bau Buton, one separated island in south east
I spend my childhood in my kampong called Kaobula, from elementary school until senior high school. Before I move to
ersity in Kendari, the capital of south east sulawesi province. It just lasted for one year. Then it came the time to compete with other registrant in one governmental school in
Now I work in one private company in Makassar, the capital of
Well that is a brief self introduction. To complete it, I will also describe of my kampong uniqueness in term of history and tourism resort in the........ N E X T A R T I C L E
